Pemeriksaan

Cara Mudah Membaca Analisa Gas Darah

25 February 2013

Petugas kesehatan seringkali  kesulitan dalam membaca hasil analisa gas darah (BGA). Kesalahan dalam menginterpretasinya seringkali menyebabkan kesalahan diagnosis. Berikut terdapat beberapa cara mudah dalam membaca hasil BGA:

1.       Lihat pH

Langkah pertama adalah lihat pH. pH normal dari darah antara 7,35 – 7,45. Jika pH darah di bawah 7,35 berarti asidosis, dan jika di atas 7,45 berarti alkalosis.

2.       Lihat CO2

Langkah kedua adalah lihat kadar pCO2. Kadar pCO2 normal adalah 35-45 mmHg. Di bawah 35 adalah alkalosis, di atas 45 asidosis.

3.       Lihat HCO3

Langkah ketiga adalah lihat kadar HCO3. Kadar normal HCO3 adalah 22-26 mEq/L. Di bawah 22 adalah asidosis, dan di atas 26 alkalosis.

4.       Bandingkan CO2 atau HCO3 dengan pH

Langkah selanjutnya adalah bandingkan kadar pCO2 atau HCO3 dengan pH untuk menentukan jenis kelainan asam basanya. Contohnya, jika pH asidosis dan CO2 asidosis, maka kelainannya disebabkan oleh sistem pernapasan, sehingga disebut asidosis respiratorik. Contoh lain jika pH alkalosis dan HCO3 alkalosis, maka kelainan asam basanya disebabkan oleh sistem metabolik sehingga disebut metabolik alkalosis.

5.       Apakah CO2 atau HCO3 berlawanan dengan pH

Langkah kelima adalah melihat apakah kadar pCO2 atau HCO3 berlawanan arah dengan pH. Apabila ada yang berlawanan, maka terdapat kompensasi dari salah satu sistem pernapasan atau metabolik. Contohnya jika pH asidosis, CO2 asidosis dan HCO3 alkalosis, CO2 cocok dengan pH sehingga kelainan primernya asidosis respiratorik. Sedangkan HCO3 berlawanan dengan pH menunjukkan adanya kompensasi dari sistem metabolik.

6.        Lihat pO2 dan saturasi O2

Langkah terakhir adalah lihat kadar PaO2 dan O2 sat. Jika di bawah normal maka menunjukkan terjadinya hipoksemia.

Untuk memudahkan mengingat mana yang searah dengan pH dan mana yang berlawanan, maka kita bisa menggunakan akronim ROME.

Respiratory Opposite : pCO2 di atas normal berarti pH semakin rendah (asidosis) dan sebaliknya.

Metabolic Equal : HCO3 di atas normal berarti pH semakin tinggi (alkalosis) dan sebaliknya.

Semoga bermanfaat

Sumber: 6 Easy Steps to ABG Analysis

Pemeriksaan Serologi pada Hepatitis B

22 February 2013

Hepatitis B merupakan penyakit infeksi pada hati yang angka kejadiannya tinggi dan dapat menimbulkan masalah kronis seperti sirosis hepatis dan kanker hati. Diagnosis hepatitis B dikerjakan dengan melakukan tes terhadap beberapa marker serologis dari virus hepatitis B dan dengan menambahkan tes tambahan untuk menyingkirkan penyebab lain seperti virus hepatitis A dan C. Sedangkan untuk penyaring, cukup dilakukan pemeriksaan HBsAg dan Anti HBs.

Skema marker serologi hepatitis B (Fauci et al, 2008)

HBs Ag

Jika positif, pasien dianggap terinfeksi hepatitis B. Pengulangan tes setelah 6 bulan untuk menentukan infeksi telah sembuh atau kronik. HBsAg positif setelah 6 bulan tetap terdeteksi dalam darah selama lebih dari enam bulan berarti telah menjadi kronis.

Anti HBs

Jika positif, pasien dianggap memiliki kekebalan terhadap hepatitis B  (baik karena infeksi yang telah sembuh atau karena vaksinasi). Hepatitis B karier kronis dapat menunjukkan HBsAg dan Anti HBs positif.  positif untuk HbsAg dan anti HBs pada saat yang bersamaan, tetapi hal ini sangat jarang terjadi (<1%). Jika negatif pasien belum memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis B

HBeAg

HBeAg positif berhubungan dengan tingkat infeksi yang tinggi dan pada karier kronik dengan peningkatan resiko sirosis. Tes ini dapat digunakan untuk mengamati perkembangan hepatitis B kronik.

HBV DNA

HBV DNA positif menunjukkan infeksi aktif, bergantung pada  viral load (jumlah virus). Tes ini dapat digunakan untuk mengetahui prognosis dan keberhasilan terapi.

Anti HBc

Jika positif, pasien telah terinfeksi oleh VHB. Infeksi telah sembuh (HBsAg negatif) atau masih berlangsung (HBsAg positif). Jika infeksi telah sembuh,  pasien dianggap  mempunyai kekebalan alami terhadap infeksi VHB. IgM anti HBc mungkin menjadi satu-satunya marker yang dapat terdeteksi selama masa window period ketika HbsAg dan anti-HBs masih negatif.

Anti HBe

Umumnya Anti HBe positif dengan HBeAg negatif menunjukkan tingkat replikasi virus yang rendah. Namun hal ini tidak berlaku pada virus hepatitis B mutan.

Pemeriksaan tambahan

Anti HCV dan Anti HAV untuk menyingkirkan adanya infeksi hepatitis C dan A.

Semoga bermanfaat

Dari berbagai sumber

Pemeriksaan Lactate Dehydrogenase (LDH)

15 February 2013

Lactate dehydrogenase (LDH) terdapat pada semua sel tubuh, dengan konsentrasi yang bervariasi sekitar 1.500 sampai 5.000 kali lebih tinggi daripada di darah.  Sehingga kebocoran ensim dari jaringan yang rusak dapat meningkatkan kadar LDH dalam darah. Berbagai jaringan memiliki komposisi isoensim LDH yang berbeda, yaitu:

  • LDH1 : jantung, eritrosit
  • LDH2 : RES
  • LDH3 : paru dan jaringan lainnya
  • LDH4 : ginjal, plasenta, pankreas
  • LDH5 : hati dan otot

Bisa kita lihat bahwa LDH terdapat pada semua jaringan, sehingga peningkatan kadar LDH dalam darah bisa disebabkan oleh berbagai penyakit, seperti serangan jantung, hepatitis, hemolisis, gagal ginjal, penyakit paru dan otot. Jadi perlu diingat bahwa pemeriksaan LDH ini merupakan tes yang sensitif, tapi tidak spesifik karena dapat meningkat pada berbagai kondisi.

Nilai normal: 110-210 IU/L

Semoga bermanfaat

Sumber: Manual of Laboratory and Diagnostic Tests

Strategi Penatalaksanaan Laboratorium pada Gagal Ginjal Kronis

15 February 2013

Gagal ginjal kronis (GGK) adalah penurunan semua fungsi ginjal secara bertahap, diikuti penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Pemeriksaan laboratorium sangat penting perannya dalam penatalaksanaan GGK. Tujuannya yaitu memantapkan diagnosis GGK dan menentukan derajat, membedakan proses akut vs kronis, dan identifikasi penyebab.

Untuk memantapkan diagnosis GGK dan menentukan derajatnya, maka perlu pemeriksaan GFR (Glomerular Filtration Rate). Standar baku emas dari pemeriksaan GFR adalah dengan memeriksa kreatinin urin dalam 24 jam. Namun banyak hambatan dalam pengerjaannya karena harus mengumpulkan urin dalam 24 jam penuh. Sehingga digunakan pemeriksaan kliren kreatinin menggunakan ureum dan kreatinin serum. Pemeriksaan klirens kreatinin ini hampir mendekati nilai GFR. Dalam hal ini dapat digunakan rumus Cockcroft-Gault.

Rumus Cockroft-Gault (Fauci et al, 2009)

 Klasifikasi GGK (Fauci et al, 2009)

Pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk memastikan adanya kerusakan target organ adalah urin rutin untuk melihat albuminuria, elektrolit untuk melihat adanya hipokalsemia, dan darah rutin untuk anemianya.

Membedakan proses akut vs kronis

  • Darah lengkap : pada GGK biasanya terjadi anemia sedang normositik normokromik, sedangkan pada GGA tidak ada anemia.
  • Urin lengkap : pada GGK terjadi albuminuria berat, sedangkan GGA albuminuria sedang dan ditemukan adanya silinder epitel tubulus.
  • Analisa Gas Darah : pada GGK terjadi asidosis metabolik terkompensasi karena prosesnya telah lama, sedangkan pada GGA tidak mampu melakukan kompensasi.
  • Elektrolit : pada GGK telah terjadi kerusakan target organ sehingga terjadi hipokalsemia, sedangkan pada GGA tidak terjadi hipokalsemia.

Penyebab dibagi menjadi prerenal, renal, dan post renal.

  • Renal : albuminuria > 2+, atau 1+ pada pasien DM dan hipertensi, untuk memastikan perlu pemeriksaan GDP/GD 2 jamPP, dan funduskopi.
  • Post renal : hematuria sedang-berat yang disebabkan karena batu atau tumor, untuk itu perlu dilakukan USG abdomen. Kultur urin dilakukan apabila ada kecurigaan infeksi.
  • Prerenal : sangat jarang, apabila pemeriksaan tidak mengarah penyebab renal maupun post renal kemungkinan disebabkan karena prerenal.

Semoga bermanfaat

Sumber: Harrison’s Principle of Internal Medicine dan Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam

HbA1c, Tahu Kepatuhan Pengobatan DM

15 February 2013

Kadang dokter meminta pasien penderita diabet untuk memeriksakan kadar HbA1c. Tapi apakah semua tahu manfaat pemeriksaan tersebut? Kebanyakan mungkin hanya mengetahui pemeriksaan gula darah puasa dan gula darah setelah makan.

HbA1c atau glycosylated hemoglobin adalah suatu bentuk hemoglobin yang menunjukkan konsentrasi glukosa plasma pada periode waktu yang lama. Pasien dengan diabet yang tidak terkontrol, kadar HbA1c lebih tinggi dibandingkan dengan orang sehat dan pasien diabet dengan gula darah terkontrol. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan konsentrasi glukosa darah dari 1-3 bulan sebelum tes.

Estimasi kadar glukosa darah dari HbA1c

Dilihat dari gambar di atas, jadi kadar normal dari HbA1c harus dipertahankan di bawah 6,5%

Jadi gak perlu tes gula darah dong? cukup HbA1c saja? Tidak, pemeriksaan gula darah tetap perlu. Pemeriksaan HbA1c bermanfaat untuk pengendalian gula darah jangka panjang, dengan menilai efektivitas terapi dan kepatuhan penderita selama pengobatan. Sedangkan pemeriksaan gula darah diperlkan terutama untuk melihat adanya perubahan kadar glukosa darah secara mendadak. Jadi pemeriksaan ini saling melengkapi.

Pasien diabetes sebaiknya memeriksakan kadar HbA1c setiap 3 bulan. Pada penderita dengan diabetes yang terkendali, direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan ini setiap 6 bulan.

Semoga bermanfaat

Dari berbagai sumber

Pemeriksaan Alfa Feto Protein

15 February 2013

Kali ini saya coba menulis tentang beberapa pemeriksaan yang mungkin kurang familiar di telinga kita. Pada lembar permintaan bisa kita lihat ada beberapa item seperti CRP, ASTO, RAF, SI/TIBC,Coomb’s Test, AFP, dan lain sebagainya.

Kita awali dulu dengan pemeriksaan Alfa Feto Protein (AFP). Mungkin di antara kita ada yang pernah diminta oleh dokter untuk kadar AFP. Sebenarnya apakah tujuan dari pemeriksaan ini?

AFP adalah suatu protein plasma yang dihasilkan oleh yolk sac (kantong kuning telur) dan hati selama kehidupan janin. AFP ini diketahui tidak memiliki manfaat pada orang dewasa yang sehat. Jadi, kadar yang meningkat dapat menunjukkan kelainan.

Kadar normal dari AFP adalah di bawah 10 ng/ml. Kenaikan sedang sampai 500 ng/ml dapat terjadi pada penderita hepatitis kronik. Sedangkan  kadar di atas 500 ng/ml hanya terdapat pada :

  1. Kanker hati
  2. Kanker testis dan ovarium
  3. Proses penyebaran kanker yang telah mencapai hati

Pada ibu hamil, pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui adanya cacat lahir, seperti spina bifida, neural tube defect, anencephali, dan sindroma Down. Biasanya dilakukan pada minggu 14-20.

Pemeriksaan AFP juga dapat digunakan untuk melihat respon penderita terhadap pengobatan, contohnya pada penderita kanker hati yang telah dilakukan operasi pembedahan, kadar AFP bisa turun ke level normal.

Semoga bermanfaat.

dari berbagai sumber

PSA, Deteksi Kanker Prostat

15 February 2013

 

PSA atau Prostate Specific Antigen merupakan suatu protein yang dihasilkan oleh sel kelenjar prostat yang dapat dideteksi dari darah. Pada laki-laki sehat tanpa kelainan prostat, PSA berada pada kadar yang rendah, dan dapat meningkat apabila terdapat kelainan pada prostat seperti BPH (Benign Prostate Hyperplasia), prostatitis, maupun kanker prostat.

Kadar normal PSA berbeda-beda dari tiap sumber, tetapi rata-rata menyebutkan dibawah 4 ng/ml dengan peningkatan pada tiap usia seseorang. Seperti pada lelaki dengan usia di atas 70 tahun, adalah normal memiliki kadar PSA sampai 6 ng/ml. Kadar PSA antara 4 – 10 ng/ml menunjukkan dugaan adanya kelainan pada prostat, walaupun sebagian besar ternyata normal. Kadar di atas 10 ng/ml kemungkinan dugaan ini meningkat secara drastis.

Skrining kanker prostat direkomendasikan dimulai pada usia 50 tahun ke atas setiap tahun.  Skrining dilakukan oleh dokter dengan cara RT (Rectal Touche) atau DRE (Digital Rectal Examination) dan tes PSA.

Yang perlu diingat adalah tidak semua kanker prostat menunjukkan kenaikan pada kadar PSA dan tidak semua kenaikan kadar PSA menunjukkan adanya kanker prostat. Pemeriksaan oleh dokter, baik itu pemeriksaan fisik seperti RT atau pemeriksaan radiologi,  sangatlah penting dalam proses diagnose pada kelainan prostat. Jadi tidak semata-mata dari hasil laboratorium.

Semoga bermanfaat

dari berbagai sumber

Persiapan Pemeriksaan Gula Darah

15 February 2013

Pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS)

Tidak memerlukan persiapan. Namanya juga sewaktu-waktu..hehehe..tujuannya untuk deteksi awal pasien yang diduga menderita DM sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Di tempat praktek dokter biasanya sudah tersedia alat yang ringkas untuk mendeteksi yang biasa disebut GD stick. Tinggal diambil sedikit darah dari ujung jari menggunakan jarum, stick dimasukkan alat, darah ditotolkan ke stick, dan hasilnya keluar. Nilai normal = < 140 mg/dl

Pemeriksaan gula darah puasa (GDP)

Persiapannya adalah dengan puasa semalaman sekitar 10-12 jam. Pagi sebelum makan pagi Anda berangkat ke laboratorium klinik untuk diambil darahnya guna diperiksa kadar gula darah puasa. Nilai normal = 70 – 110 mg/dl

Pemeriksaan gula darah 2 jam post prandial

Pemeriksaan ini dilakukan setelah pemeriksaan gula darah puasa. Anda diminta menghabiskan 75 gram glukosa yang dilarutkan ke 200 mL air dalam 5 menit. Selanjutnya Anda istirahat tanpa melakukan aktivitas berlebihan selama 2 jam kemudian diperiksa. Nilai normalnya adalah <140 mg/dl

Jangan lupa bila setiap dokter pribadi Anda meminta untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium, tanyakan dulu apa saja yang perlu dipersiapkan agak Anda tidak bolak-balik pergi ke laboratorium hanya untuk mendapatkan inormasi. Lebih baik datang udah siap tempur, langsung dicek langsung pulang, waktu gak habis di jalan,hehehe..

Semoga bermanfaat..

Pemeriksaan SGOT dan SGPT

15 February 2013

SGOT (serum glutamic-oxaloacetic transaminase) atau disebut juga AST (aspartate transferase) dapat ditemukan di jantung, hati, otot rangka, otak, ginjal, dan sel darah merah. Peningkatan SGOT dapat meningkat pada penyakit hati, infark miokard, pankreatitis akut, anemia hemolitik, penyakit ginjal akut, penyakit otot, dan cedera.

Sedangkan SGPT (serum glutamic-pyruvic transaminase) atau disebut juga dengan ALT (alanine transferase) terutama ditemukan di hati, dan sedikit di ginjal, jantung, dan otot rangka. Penyakit pada jaringan hati menyebabkan ensim ini keluar ke dalam darah, sehinga kadarnya meningkat. Jadi SGPT lebih sensitif dan spesifik pada jaringan hati daripada SGOT. Secara umum, peningkatan SGPT disebabkan oleh penyakit hati. Pada penyakit hati selain dari virus, rasio SGPT/SGOT (DeRitis ratio) <1, sedangkan hepatitis virus rasio SGPT/SGOT >1.

Kedua ensim tersebut bisa meningkat tanpa adanya penyakit yang mendasari, seperti latihan atau olahraga yang berlebihan, sebelumnya dilakukan suntikan intramuskuler, dan pemberian obat-obatan.

Kadar normal SGOT: 4-35 unit/L; SGPT: 4-36 unit/L (bervariasi tergantung laboratorium yang memeriksa)

Sumber: Diagnostic and Laboratory Test Reference, 2009

Pemeriksaan CPK dan CKMB pada Serangan Jantung

15 February 2013

Serangan jantung tentunya adalah momok yang menakutkan bagi semua orang. Tidak heran, karena di berbagai negara, penyakit ini adalah penyebab kematian nomer satu. Terdapat beberapa pemeriksaan laboratorium sebagai alat diagnosis serangan jantung, antara lain CPK, CKMB, troponin I dan T, dan myoglobin. Pada tulisan kali ini saya akan mencoba membahas tentang pemeriksaan CPK dan CKMB, sedangkan untuk troponin akan saya posting di lain hari.

CPK atau creatine phosphokinase (atau kadang hanya disebut sebagai CK atau creatine kinase) adalah ensim yang dapat ditemukan pada berbagai sel, terutama pada sel otot. Dilihat dari tipenya, ensim ini terdapat pada otot rangka (CK-MM), otot jantung (CK-MB), otak dan usus (CK-BB), dan mitokondria (CK-mt). Apabila terjadi kerusakan pada sel-sel ini, maka ensim CPK akan bocor keluar. Pada saat terjadinya serangan jantung, CPK akan meningkat dalam 4-8 jam, mencapai puncak dalam 18 jam, dan kembali normal dalam 48-72 jam. Pemeriksaan CPK kurang spesifik pada jantung, karena juga meningkat pada penyakit otot rangka, trauma, dan infark serebri.

Sedangkan CKMB, isoensim dari CPK, memiliki tingkat spesifisitas yang lebih tinggi dari CPK. CKMB akan meningkat dalam 3-6 jam setelah terjadi serangan jantung, mencapai puncak dalam 12-24 jam, dan kembali normal dalam 48-72 jam. Selain karena serangan jantung, CKMB juga meningkat pada miokarditis, gagal jantung, dan trauma pada otot jantung.

Yang terpenting adalah mengetahui kapan kedua ensim ini akan meningkat, kapan puncaknya, dan kapan akan kembali normal, sehingga pemeriksaan yang dilakukan memiliki nilai diagnostik dan tidak sia-sia dilakukan. Contohnya, akan percuma jika dilakukan pemeriksaan CKMB pada hari keempat setelah serangan.

Nilai normal:

  • CPK:
  1. Wanita : 40–150 U/L
  2. Pria :  38–174 U/L
  •  CPK-MB : <3% dari CPK

Semoga bermanfaat

Sumber: Manual of Laboratory and Diagnostic Tests, 2008

Next Page »